Powered By Blogger

Thursday, July 17, 2014

KEKECEWAAN

Sungguh, betapa lama aku baru bisa menyadari bahwa sosok seorang ibuku adalah sesosok yang paling luar biasa. Sebuah perjuangan hidup yang kumaknai dan ku terapkan dalam dedikasi mengurus keluarga. Tak pernah dapat ku mengerti, mengapa hatiku sungguh tertutup kala itu. Kisah dimana ujian berat dalam hidupku mulai teranyam, dimana masalah hidup mulai terdorong ke titik yang paling curam. Hal yang sangat ku takuti ketika menikah, yaitu perceraian. Hal yang selalu ku bicarakan dengan ibuku, bahkan sempat tuk berpikir bahwa "melarikan diri" ke Seminari, atau sekolah biarawan adalah hal terbaik tuk menghindari perceraian. 4 tahun pernikahanku harus kandas ditengah jalan, dimana jalan tengahnya hanyalah sebuah perceraian, hal yang paling ku takuti. Hatiku seolah tersayat dan tercacah kala ku harus pulang kembali ke orang tuaku. Sebuah aib yang selalu membayangiku dan keluargaku. Namun, disinilah sosok ibuku mulai terkuak. Dia dengan tangan terbuka tetap menerimaku, tetap menganggapku sebagai anak laki-lakinya yang kecil. Dengan rasa malu ku berjalan mendekati rumah, ku lihat wajah ibuku. Dimana kebahagiaan karena aku pulang, dan kesedihan dimana dia terpikirkan dalam karena masalahku. Ku lihat ke dalam matanya, dimana rasa sayang dan sedih mengekangnya. 2 tahun berlalu, bersama anakku, aku melalui hal yang memalukan. Dimana perceraian ada didepan mata. Kala ku terbaring di rumah sakit, dia tetap setia menemaniku, merawatku, dengan kesabaran dan kelemah lembutan. Bahkan, segala permintaan dan rengekanku segera dia penuhi. Namun, kala dia mengeluh sakit tak pernah hirauan muncul di kepalaku tuk berbakti padanya, bahkan dia tak permasalahkan itu. Ketika masalahku mulai tak terkendali, aku mulai menyerah. Namun, tidak dengan ibuku. Dia tetap tegar berdiri. Sungguh, wanita yang terhebat. Dalam kekuatannya, dia memendam semua beban dan tak ada yang pernah aku pedulikan. Hingga tiba waktu, dimana ibuku merasakan sakit kepala yang sangat hebat. Berulang kali ibuku rawat inap di rumah sakit, segala macam obat alternative, paranormal, dan segala jenisnya kami usahakan. Peduliku tetap belum termunculkan. Hingga koma merayap ke seluruh tubuh ibuku, hingga 2 minggu ibuku dirawat di ICU. Disitu, mulai ku berdoa. Mulai merengek demi kesembuhan ibuku, bahkan tiap ku didekatnya, air mataku selalu menetes. Minta agar ibuku bisa membuka mata kembali. Saat itu, 1 hari sebelum ulang tahunku. Ku merengek dekat telinganya, ku tanya dia "Masak apa buat ultahku buk?" Biasanya ibu yang memasak, dan dengan lembut memberikanku selamat. Ku terus menangis, ku minta kado agar ibuku kembali tersenyum. Rengekan demi rengekan ku alunkan. Dan hasilnya, pada hari upang tahunku, ibuku mulai membuka mata. Berbicara sedikit demi sedikit, dan hal yang pertama adalah memberikanku ucapan selamat ulang tahun, walau kata yang diucapkan terbata-bata. Hatiku sangat gembira saat itu, hal yang terindah dan hal yang sangat ku inginkan. Seiring ibu pindah kamar, disinilah seharusnya bakti padanya ku tunjukkan. Namun, semua seakan tertutup rasa benciku padanya atas segala yang ibuku lakukan di masa lalu. Kehangatan, kesabaran, dan kelemah lembutan yang ibuku tunjukkan kala merawatku tak dapat ku balas. Bahkan sesekali ku bentak, dan seakan ku acuh padanya. Berkali-kali ibuku minta maaf, entah tentang apa, tapi tak pernah aku hiraukan. Waktunya ibuku boleh rawat jalan. Ibu boleh pulang, walau tidak dengan semangat yang seperti dulu. Ibuku sudah mulai berbeda, mulai terbata-bata dan hilang segala ingatannya, bahkan sesekali mengigau. 2 minggu ibuku terlihat segera pulih, namun tidak lama ibuku mulai tumbang. Mulutnya terkatup, seakan ada yang membungkamnya, tangan dan kakinya terbelenggu. Sungguh, mata hatiku masih tertutup. Tak pernah ku minta maaf, ku ucapkan kata sayang, dan memaafkannya. Hingga akhirnya, disaat terakhirnya, ku berada disisinya. Berdoa dengannya, ku bantu ibuku tuk berdoa, dan mulai melepasnya. Disituoah ibuku melihatku dalam, seakan minta maaf dan meneteskan air mata. Ku usap air matanya, dan ku elus rambutnya, ku pegang tangannya sambil berdoa, "Tuhan, bebaskan ibuku dari segala beban berat ini. Sediakan tempat terindah di sisiMu". Selepas itu ibuku pergi tuk selamanya. Leherku seakan tercekik, namun air mataku tetap tertahan di kelopakku. Ku tutupi rqsa kehilanganku dengan canda tuk yang terakhir kalinalya dengan ibuku yang paling ku sayang. Mungkin tak kan ada waktu lagi tuk bercanda dengannya lagi. Air mataku, penyesalanku, dan kesedihanku tertumpah kala ku dapat melihat ibuku tuk yang terakhir kala masuk pada liang lahat. Rasa sayangnya tak pernah hilang dariku, bahkan ketika aku merantau, dan terjatuh sakit. Ibuku datang dalam mimpi dan membwakanku makanan, seolah-olah ibu masih disisiku. Ibu, aku selalu sayang padamu. Aku berterima kasih atas segala kasih sayang, perhatian, dan kesabaranmu menjaga dan memeliharaku. Tak kan ada seorangpun dapat menggantikanmu didunia ini. I LOVE U MOM, PAST, PRESENT, AND EVER...

Tuesday, July 15, 2014

catatan kecil zhe

aku adalah seorang anak perempuan berumur 4 tahun yang biasa, terlahir dari keluarga yang biasa. sebenarnya kehidupanku bisa menjadi terang, berwarna, dan penuh dengan kasih sayang.

cerita ini berawal dari aku lahir, 4 tahun yang lalu. saat itu, pukul 3 dini hari mama mulai meronta, merasakan kontraksi dariku. papa yang masih bekerja langsung ditelfon untuk pulang, tapi ternyata diperkirakan aku belum siap lahir karena sore harinya mama periksa dan baru kontraksi awal. namun, pukul 4.30 aku tak tahan untuk melihat dunia. dunia yang indah yang lama aku tunggu. sesuai dengan bisikan Tuhanku bahwa di dunia aku akan merasakan kebahagiaanku yang sesungguhnya. maka, aku pun mulai mendorong dengan keras. mama pun meronta kesakitan, papa langsung membawa mama didampingi oma untuk pergi ke bidan. sesampai di bidan, ternyata mama telah mengalami kontrakai akhir. papa pun pulang tuk mengambil baju dan semua perlengkapan demi persiapan diriku lahir. saat papa pergi, keluarlah semua yang menemaniku selama di perut mama. dan 15 menit kemudian akupun keluar, menyambut dunia dengan tangisanku yang pertama. bersamaan dengan tangis bahagia mama dan oma yang saat itu melihatku. seiring berjalannya sang waktu, kehidupanku mulai terlihat. bahagiaku bersama papa dan mama yang selalu memperhatikanku. menimangku sayang, memanjakanku selalu. masa yang memang seperti apa kata Tuhanku.

2 tahun kehidupanku berjalan, hingga tiba dimana adikku menyusulku tuk melihat dunia. kan ku bagi dengannya saat indah bersama papa, mama, adik, oma, kung, ayah, uti, dan semuanya. betapa hangat dan ramahnya dunia. kala ku menangis, mereka segera menimangku, menenangkanku.

namun, tak ku sangka, bahagiaku tak seindah bayangku dulu. kebersamaanku bersama mama dan adikku harus terenggut paksa, karena keegoisan papa dan mama. yang harus memaksaku berpisah dan meninggalkan mimpi-mimpi kebahagiaanku dulu. inikah apa yang Tuhanku bisikkan bahwa dunia memang berwarna, tak hanya cerah, namun ada mendung dan badai? hariku tanpa mama dan adikku membelengguku, mengharuskanku berusaha mendapatkan kasih sayang yang baru, di tempat papa. sesaat memang tak terlalu terasa untukku dan membuat diriku mengerti akan keadaan ini. ku tutupi rasa kecewaku, ku pendam rasa jengkelku, ku kaburkan perasaanku dengan keceriaan masa kecilku. terkadang, rasa itu muncul ketika ku bermain bersama teman-temanku, mereka dimanja dan ditimang, diperhatikan dan disayang oleh kedua orang tua mereka. ku bendung rasa kebencianku pada mereka, namun bukanlah hakku tuk melakukan itu. bukankah ini semua salah.kedua orang tuaku? yang tega dan tak berpikir bagaimana masa depanku dan adikku nanti? dengan status kedua orang tua kami berpisah dikarenakan keegoisan mereka? hal yang sebenarnya membuat kami malu tuk menjawab, kala semua orang mulai mempertanyakan dimana mamaku, atau papamu, bla bla bla. besar harapanku, tuk melihat mereka kembali bersama, menimangku dan adikku bersama, memanjakan kami, dan hidup sesuai dengan apa yang ku lihat pada diri teman-temanku. yang bisa tertawa renyah tanpa harus menutupi rasa kesal dalam hati, atau bisa merajuk manja.

Tuhan, aku dan adikku minta, berikanlah kami kebahagiaan seperti apa yang telah Engkau janjikan kepada kami. kebahagiaan sebagai sebuah keluarga yang utuh, papa, mama, dan adikku yang bisa tertawa bersama. karena hanya itulah aku minta padaMu tuk datang ke dunia ini. hapuskanlah keegoisan pada hati mereka dan penuhi hati mereka dengan kasih dan sayang selayaknya mereka menyayangi kami.