Cerita ini ditujukan untuk mengerti arti sebuah hidup, dan bagaimana nenjalani sebuah duka menjadi suka. Kisah yang selalu terbayang dalam pikiranku ketika bersiap menjadi ayah.
Desember 2011, saat itu saat dimana aku dan istriku menunggu dengan cemas. Karena pada hari itu, perkiraan buah hati kami yang kedua telah dekat. Harap harap cemas terbuai dalam pikiranku, dimana aku hanya seorang buruh pabrik kecil yang berupah minim. Kebutuhan kami sehari hari terbantu dengan kami tinggal bersama orang tua istriku, aku selalu tutupi rasa maluku karena belum dapat menjadi suami dan ayah yang baik dengan menyediakan hunian kami sendiri. Lepas dari itu, kami juga masih punya seorang bidadari kecil yang saat itu masih berusia 1,5 tahun. Usiaku yang baru menginjak 21 tahun dan istriku 19 tahun membuat kami tertekan saat itu, maklum kami menikah pada tahun 2008 usia kami masih 18 dan 17 tahun.
Subuh, akhir Desember 2011. Istriku mengalami kontraksi, dan dengan terburu-buru aku langsung menyiapkan motor untuk bersiap membawanya ke puskesmas. Tidak lupa doaku ketika menenangkan istriku yang merintih kesakitan, sebenarnya waktu itu lebih cepat 2 mingu dari perkiraan bidan. Tapi, who knows?
Jarak antara rumah dngan puskesmas cukup jauh, sekitar 7km melewati gang sempit di kampung-kampung. Sebenarnya ada bidan yang jaraknya tergolong dekat, tapi apa daya. Dengan penghasilanku yang pas-pasan aku tak mampu untuk membiayainya, jangankan untuk bersalin, untuk biaya periksa tiap bulan pun aku tak mampu. Maka dari itu kami pilih puskesmas dengan program persalinan gratis.
Aku jalankan motorku dengan perlahan, berhati-hati agar istriku tak mengalami guncangan yang keras. Ku usahakan istriku nyaman dalam boncenganku.
Sekitar 20 menit berlalu, dan akhirnya sampailah kami di puskesmas. Langsung ku turunkan istriku dan ku gandeng dia masuk ke ruang bersalin. Dengan kegugupanku, aku bicara pada suster yang berjaga. Dan dengan sigap mereka menempatkan istriku dalam ruangan. Istriku merintih kesakitan, ku coba tenangkan dia dengan bacakan istighfar dan selalu ku bilang "I LOVE YOU" sepanjang waktu. Ku kuatkan dia dan ku tenangkan dia, setelah tenang aku di panggil sang bidan dan berkata, "Tekanan darah istri bapak terlalu tinggi, 160/120. Dan jika dalam satu jam darahnya belum normal maka dia harus di rujuk ke RSUD untuk menjalani cesar." Degg, hatiku langsung kacau tak beraturan. Dari mana biaya yang aku dapatkan untuk operasi? Namun, dengan tegar ku anggukkan kepalaku tanda setuju. Kemudian ku belikan istriku roti dan teh hangat untuk menguatkan tenaganya kelak. Setelah dia makan, ku tinggalkan dia untukku keluar. Di luar aku menangis, sebuah tindakan yang benar untuk seorang ayah. Aku berdoa, memohon jalan keluar agar anak dan istriku akan baik baik saja. Entah bagaimana caranya, mereka harus sehat dan dapat aku peluk. Ku raba kantongku, dimana uang 300 ribu terakhir ada. Saat itu, pabrikku tengah libur panjang dalam menghadapi natal dan tahun baru. Sehingga aku tak dapat mengandalkan cash bon dari pabrik. Namun ku coba tuk tabah. Setelah selesai merengek aku kembali ke dalam.
Setengah jam berlalu, ku iringi detak jam dengan rengekanku pada Tuhanku. Ku cium kening istriku, memegang erat tangannya dan ku bisikkan kata "Kamu wanita kuat, kamu harus kuat" dan kata "I LOVE YOU" sepanjang waktu. Dan kemudian, waktu itu datang. Istriku meronta, 5 suster langsung menanganinya. Aku hanya bisa membisikkan kata-kata tersebut demi menguatkannya. Inilah penepatan janjiku untuk selalu menemaninya ketika dia berjuang melahirkan, karena suatu alasan aku tak bisa disampingnya ketika anak pertama kami lahir.
Sebenarnya terlalu awal, karena tekanan darahnya belum kembali normal. Namun, Tuhan mengijinkan istriku melaluinya. Setelah ngeden sekitar 15 menit akhirnya kepala buah hatiku telah muncul. Dengan darah yang menyelimutinya, dia lahir di dunia. Kebahagiaanku makin lengkap ketika sang suster berkata," Selamat, anaknya cowok". Betapa lengkapnya hidupku, tapi aku kembali teringat sosok kuat dan tabah yang berjuang mati-matian, istriku. Ku lihat dia dengan wajah sayu bahagia, letih dan tampak sebuah pengorbanan yang besar. Ku cium dia, ku peluk dia. Dengan lirih dia bertanya, "Anak kita cowok apa cewek?".
"Cowok, terima kasih ya udah kasih kesempurnaan dalam hidupku", jawabku sembari tersenyum dan menangis.
Air matanya menetes, mengiringi tangisan pertama jagoanku yang dia dekap.
TUHAN selalu menjawab apa yang kita butuhkan demi kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Sebuah usaha untuk mendapatkannya, dan DIA akan selalu mencukupinya.