aku adalah seorang anak perempuan berumur 4 tahun yang biasa, terlahir dari keluarga yang biasa. sebenarnya kehidupanku bisa menjadi terang, berwarna, dan penuh dengan kasih sayang.
cerita ini berawal dari aku lahir, 4 tahun yang lalu. saat itu, pukul 3 dini hari mama mulai meronta, merasakan kontraksi dariku. papa yang masih bekerja langsung ditelfon untuk pulang, tapi ternyata diperkirakan aku belum siap lahir karena sore harinya mama periksa dan baru kontraksi awal. namun, pukul 4.30 aku tak tahan untuk melihat dunia. dunia yang indah yang lama aku tunggu. sesuai dengan bisikan Tuhanku bahwa di dunia aku akan merasakan kebahagiaanku yang sesungguhnya. maka, aku pun mulai mendorong dengan keras. mama pun meronta kesakitan, papa langsung membawa mama didampingi oma untuk pergi ke bidan. sesampai di bidan, ternyata mama telah mengalami kontrakai akhir. papa pun pulang tuk mengambil baju dan semua perlengkapan demi persiapan diriku lahir. saat papa pergi, keluarlah semua yang menemaniku selama di perut mama. dan 15 menit kemudian akupun keluar, menyambut dunia dengan tangisanku yang pertama. bersamaan dengan tangis bahagia mama dan oma yang saat itu melihatku. seiring berjalannya sang waktu, kehidupanku mulai terlihat. bahagiaku bersama papa dan mama yang selalu memperhatikanku. menimangku sayang, memanjakanku selalu. masa yang memang seperti apa kata Tuhanku.
2 tahun kehidupanku berjalan, hingga tiba dimana adikku menyusulku tuk melihat dunia. kan ku bagi dengannya saat indah bersama papa, mama, adik, oma, kung, ayah, uti, dan semuanya. betapa hangat dan ramahnya dunia. kala ku menangis, mereka segera menimangku, menenangkanku.
namun, tak ku sangka, bahagiaku tak seindah bayangku dulu. kebersamaanku bersama mama dan adikku harus terenggut paksa, karena keegoisan papa dan mama. yang harus memaksaku berpisah dan meninggalkan mimpi-mimpi kebahagiaanku dulu. inikah apa yang Tuhanku bisikkan bahwa dunia memang berwarna, tak hanya cerah, namun ada mendung dan badai? hariku tanpa mama dan adikku membelengguku, mengharuskanku berusaha mendapatkan kasih sayang yang baru, di tempat papa. sesaat memang tak terlalu terasa untukku dan membuat diriku mengerti akan keadaan ini. ku tutupi rasa kecewaku, ku pendam rasa jengkelku, ku kaburkan perasaanku dengan keceriaan masa kecilku. terkadang, rasa itu muncul ketika ku bermain bersama teman-temanku, mereka dimanja dan ditimang, diperhatikan dan disayang oleh kedua orang tua mereka. ku bendung rasa kebencianku pada mereka, namun bukanlah hakku tuk melakukan itu. bukankah ini semua salah.kedua orang tuaku? yang tega dan tak berpikir bagaimana masa depanku dan adikku nanti? dengan status kedua orang tua kami berpisah dikarenakan keegoisan mereka? hal yang sebenarnya membuat kami malu tuk menjawab, kala semua orang mulai mempertanyakan dimana mamaku, atau papamu, bla bla bla. besar harapanku, tuk melihat mereka kembali bersama, menimangku dan adikku bersama, memanjakan kami, dan hidup sesuai dengan apa yang ku lihat pada diri teman-temanku. yang bisa tertawa renyah tanpa harus menutupi rasa kesal dalam hati, atau bisa merajuk manja.
Tuhan, aku dan adikku minta, berikanlah kami kebahagiaan seperti apa yang telah Engkau janjikan kepada kami. kebahagiaan sebagai sebuah keluarga yang utuh, papa, mama, dan adikku yang bisa tertawa bersama. karena hanya itulah aku minta padaMu tuk datang ke dunia ini. hapuskanlah keegoisan pada hati mereka dan penuhi hati mereka dengan kasih dan sayang selayaknya mereka menyayangi kami.
cerita ini berawal dari aku lahir, 4 tahun yang lalu. saat itu, pukul 3 dini hari mama mulai meronta, merasakan kontraksi dariku. papa yang masih bekerja langsung ditelfon untuk pulang, tapi ternyata diperkirakan aku belum siap lahir karena sore harinya mama periksa dan baru kontraksi awal. namun, pukul 4.30 aku tak tahan untuk melihat dunia. dunia yang indah yang lama aku tunggu. sesuai dengan bisikan Tuhanku bahwa di dunia aku akan merasakan kebahagiaanku yang sesungguhnya. maka, aku pun mulai mendorong dengan keras. mama pun meronta kesakitan, papa langsung membawa mama didampingi oma untuk pergi ke bidan. sesampai di bidan, ternyata mama telah mengalami kontrakai akhir. papa pun pulang tuk mengambil baju dan semua perlengkapan demi persiapan diriku lahir. saat papa pergi, keluarlah semua yang menemaniku selama di perut mama. dan 15 menit kemudian akupun keluar, menyambut dunia dengan tangisanku yang pertama. bersamaan dengan tangis bahagia mama dan oma yang saat itu melihatku. seiring berjalannya sang waktu, kehidupanku mulai terlihat. bahagiaku bersama papa dan mama yang selalu memperhatikanku. menimangku sayang, memanjakanku selalu. masa yang memang seperti apa kata Tuhanku.
2 tahun kehidupanku berjalan, hingga tiba dimana adikku menyusulku tuk melihat dunia. kan ku bagi dengannya saat indah bersama papa, mama, adik, oma, kung, ayah, uti, dan semuanya. betapa hangat dan ramahnya dunia. kala ku menangis, mereka segera menimangku, menenangkanku.
namun, tak ku sangka, bahagiaku tak seindah bayangku dulu. kebersamaanku bersama mama dan adikku harus terenggut paksa, karena keegoisan papa dan mama. yang harus memaksaku berpisah dan meninggalkan mimpi-mimpi kebahagiaanku dulu. inikah apa yang Tuhanku bisikkan bahwa dunia memang berwarna, tak hanya cerah, namun ada mendung dan badai? hariku tanpa mama dan adikku membelengguku, mengharuskanku berusaha mendapatkan kasih sayang yang baru, di tempat papa. sesaat memang tak terlalu terasa untukku dan membuat diriku mengerti akan keadaan ini. ku tutupi rasa kecewaku, ku pendam rasa jengkelku, ku kaburkan perasaanku dengan keceriaan masa kecilku. terkadang, rasa itu muncul ketika ku bermain bersama teman-temanku, mereka dimanja dan ditimang, diperhatikan dan disayang oleh kedua orang tua mereka. ku bendung rasa kebencianku pada mereka, namun bukanlah hakku tuk melakukan itu. bukankah ini semua salah.kedua orang tuaku? yang tega dan tak berpikir bagaimana masa depanku dan adikku nanti? dengan status kedua orang tua kami berpisah dikarenakan keegoisan mereka? hal yang sebenarnya membuat kami malu tuk menjawab, kala semua orang mulai mempertanyakan dimana mamaku, atau papamu, bla bla bla. besar harapanku, tuk melihat mereka kembali bersama, menimangku dan adikku bersama, memanjakan kami, dan hidup sesuai dengan apa yang ku lihat pada diri teman-temanku. yang bisa tertawa renyah tanpa harus menutupi rasa kesal dalam hati, atau bisa merajuk manja.
Tuhan, aku dan adikku minta, berikanlah kami kebahagiaan seperti apa yang telah Engkau janjikan kepada kami. kebahagiaan sebagai sebuah keluarga yang utuh, papa, mama, dan adikku yang bisa tertawa bersama. karena hanya itulah aku minta padaMu tuk datang ke dunia ini. hapuskanlah keegoisan pada hati mereka dan penuhi hati mereka dengan kasih dan sayang selayaknya mereka menyayangi kami.

No comments:
Post a Comment
Mari berkomentar dari hati lepas hati, :-)