Sungguh, betapa lama aku baru bisa menyadari bahwa sosok seorang ibuku adalah sesosok yang paling luar biasa. Sebuah perjuangan hidup yang kumaknai dan ku terapkan dalam dedikasi mengurus keluarga. Tak pernah dapat ku mengerti, mengapa hatiku sungguh tertutup kala itu.
Kisah dimana ujian berat dalam hidupku mulai teranyam, dimana masalah hidup mulai terdorong ke titik yang paling curam. Hal yang sangat ku takuti ketika menikah, yaitu perceraian. Hal yang selalu ku bicarakan dengan ibuku, bahkan sempat tuk berpikir bahwa "melarikan diri" ke Seminari, atau sekolah biarawan adalah hal terbaik tuk menghindari perceraian. 4 tahun pernikahanku harus kandas ditengah jalan, dimana jalan tengahnya hanyalah sebuah perceraian, hal yang paling ku takuti. Hatiku seolah tersayat dan tercacah kala ku harus pulang kembali ke orang tuaku. Sebuah aib yang selalu membayangiku dan keluargaku. Namun, disinilah sosok ibuku mulai terkuak. Dia dengan tangan terbuka tetap menerimaku, tetap menganggapku sebagai anak laki-lakinya yang kecil. Dengan rasa malu ku berjalan mendekati rumah, ku lihat wajah ibuku. Dimana kebahagiaan karena aku pulang, dan kesedihan dimana dia terpikirkan dalam karena masalahku. Ku lihat ke dalam matanya, dimana rasa sayang dan sedih mengekangnya.
2 tahun berlalu, bersama anakku, aku melalui hal yang memalukan. Dimana perceraian ada didepan mata. Kala ku terbaring di rumah sakit, dia tetap setia menemaniku, merawatku, dengan kesabaran dan kelemah lembutan. Bahkan, segala permintaan dan rengekanku segera dia penuhi. Namun, kala dia mengeluh sakit tak pernah hirauan muncul di kepalaku tuk berbakti padanya, bahkan dia tak permasalahkan itu. Ketika masalahku mulai tak terkendali, aku mulai menyerah. Namun, tidak dengan ibuku. Dia tetap tegar berdiri. Sungguh, wanita yang terhebat. Dalam kekuatannya, dia memendam semua beban dan tak ada yang pernah aku pedulikan. Hingga tiba waktu, dimana ibuku merasakan sakit kepala yang sangat hebat. Berulang kali ibuku rawat inap di rumah sakit, segala macam obat alternative, paranormal, dan segala jenisnya kami usahakan. Peduliku tetap belum termunculkan.
Hingga koma merayap ke seluruh tubuh ibuku, hingga 2 minggu ibuku dirawat di ICU. Disitu, mulai ku berdoa. Mulai merengek demi kesembuhan ibuku, bahkan tiap ku didekatnya, air mataku selalu menetes. Minta agar ibuku bisa membuka mata kembali.
Saat itu, 1 hari sebelum ulang tahunku. Ku merengek dekat telinganya, ku tanya dia "Masak apa buat ultahku buk?" Biasanya ibu yang memasak, dan dengan lembut memberikanku selamat. Ku terus menangis, ku minta kado agar ibuku kembali tersenyum. Rengekan demi rengekan ku alunkan. Dan hasilnya, pada hari upang tahunku, ibuku mulai membuka mata. Berbicara sedikit demi sedikit, dan hal yang pertama adalah memberikanku ucapan selamat ulang tahun, walau kata yang diucapkan terbata-bata. Hatiku sangat gembira saat itu, hal yang terindah dan hal yang sangat ku inginkan.
Seiring ibu pindah kamar, disinilah seharusnya bakti padanya ku tunjukkan. Namun, semua seakan tertutup rasa benciku padanya atas segala yang ibuku lakukan di masa lalu. Kehangatan, kesabaran, dan kelemah lembutan yang ibuku tunjukkan kala merawatku tak dapat ku balas. Bahkan sesekali ku bentak, dan seakan ku acuh padanya. Berkali-kali ibuku minta maaf, entah tentang apa, tapi tak pernah aku hiraukan.
Waktunya ibuku boleh rawat jalan. Ibu boleh pulang, walau tidak dengan semangat yang seperti dulu. Ibuku sudah mulai berbeda, mulai terbata-bata dan hilang segala ingatannya, bahkan sesekali mengigau. 2 minggu ibuku terlihat segera pulih, namun tidak lama ibuku mulai tumbang. Mulutnya terkatup, seakan ada yang membungkamnya, tangan dan kakinya terbelenggu. Sungguh, mata hatiku masih tertutup. Tak pernah ku minta maaf, ku ucapkan kata sayang, dan memaafkannya. Hingga akhirnya, disaat terakhirnya, ku berada disisinya. Berdoa dengannya, ku bantu ibuku tuk berdoa, dan mulai melepasnya. Disituoah ibuku melihatku dalam, seakan minta maaf dan meneteskan air mata. Ku usap air matanya, dan ku elus rambutnya, ku pegang tangannya sambil berdoa, "Tuhan, bebaskan ibuku dari segala beban berat ini. Sediakan tempat terindah di sisiMu". Selepas itu ibuku pergi tuk selamanya. Leherku seakan tercekik, namun air mataku tetap tertahan di kelopakku. Ku tutupi rqsa kehilanganku dengan canda tuk yang terakhir kalinalya dengan ibuku yang paling ku sayang. Mungkin tak kan ada waktu lagi tuk bercanda dengannya lagi. Air mataku, penyesalanku, dan kesedihanku tertumpah kala ku dapat melihat ibuku tuk yang terakhir kala masuk pada liang lahat.
Rasa sayangnya tak pernah hilang dariku, bahkan ketika aku merantau, dan terjatuh sakit. Ibuku datang dalam mimpi dan membwakanku makanan, seolah-olah ibu masih disisiku. Ibu, aku selalu sayang padamu. Aku berterima kasih atas segala kasih sayang, perhatian, dan kesabaranmu menjaga dan memeliharaku. Tak kan ada seorangpun dapat menggantikanmu didunia ini.
I LOVE U MOM, PAST, PRESENT, AND EVER...

No comments:
Post a Comment
Mari berkomentar dari hati lepas hati, :-)