Powered By Blogger

Thursday, August 25, 2016

DUNIKAU DUNIAKU

Dulu, duniaku tampak gelap dan tak berwarna
Hanya kesunyian dan kemuraman tampak sepanjang hari
Tiada cahaya yang mampu terangi jalanku
Sesat, jatuh, dan terantuk selalu kurasakan dalam hari-hariku
Tak pernah ku berharap tuk bisa keluar dari cekam ini,
Karena ku tahu itu tak mungkin

Namun, sekian lama ku terpasung
Sekilas, secerca cahaya nampak
Memenggal kesuraman, memecah kemuraman
Menghancurkan belenggu pasung di kakiku
Tuk dapat berharap berjalan lagi

Cahaya yang samar perlahan mulai meredup
Seakan menjauh kala ku tuju
Duniaku pun berubah abu
Tampak kekalutan dibenakku

Asa yang merona itu pun kembali memudar
Akankah ku kembali ke lubang hitam yang tak berdasar itu?

Kala ku menunduk, terasa perasaan hangat menyentuhku
Menarikku kembali berharap
Menguatkanku kembali berjalan
Mewarnai duniaku dengan cerah
Mendorongku tuk bisa tersenyum

Hari dimana ku menemukanmu, hari dimana ku kembali berjuang
Dengan secerca cahaya yang ku dapat
Kini ku berani tuk berlari

Kuletakkan matiku di hadapmu
Ku letakkan putus asaku di depanmu
Hingga kau dapat melihatku bangkit
Hingga kau dapat melihatku dan bangga
Meski kini ku masih tertatih, namun ku tetap berusaha
Meski kini ku masih dalam dunia abu-abuku, namun langitku kini biru

Terima kasih cinta, ku harap sesalmu tak kan mengalahkan yakinmu
Ku kan tetap berpegang hingga ku tak kuasa tuk bernafas demi tegakkan selalu yakinmu
Duniaku tak kan berwarna tanpamu
Matiku tak kan bermakna tanpamu
Dan hidupku hanya akan hitam tanpamu

Saturday, June 4, 2016

SUPERMASSIVE BLACKHOLE

Well, sesuatu hal yang relatif mungkin tidak dapat di jelaskan
Seperti berapa massa dari udara atau berapa banyak kadar kedengkian dalam hati manusia
Dunia akan selalu berputar walaupun kita tak pernah menginginkannya
Matahari akan terus bersinar walau kita berteriak kepadanya

Bukankah hal yang lazim dilakukan jika seseorang akan mengeluh ketika, mungkin kehidupannya selalu memudar
Bukankah hal yang wajar jika seseorang akan berpaling jika tak dihiraukan?

Banyak orang beranggapan, jika dirinya layaknya sang Matahari
Yang selalu bersinar menerangi Bumi
Banyak orang beranggapan, jika dirinya layaknya sang Bulan
Yang selalu menggantikan posisi Matahari ketika malam datang
Banyak orang beranggapan, jika dirinya layaknya sang Bintang
Yang selalu menghiasi gelap malam dengan kerlipnya

Namun adakah yang mengira dirinya sebuah ruang kosong, tempat dimana Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang bernaung?
Terlalu muluk dan tinggi untuk memikirkannya
Alangkah baiknya, jika kita selalu berandai menjadi tempat pergumulan semua keindahan itu
Alangkah bahagianya, jika kita menempatkan diri kita untuk selalu memberikan suatu kebaikan

Coretan yang mungkin terdengar aneh dan tak masuk akal ini hanyalah sebuah gumaman-gumaman kecil yang berdengung di kepala saya
Entah hal itu dapat menjadi rujukan atau cacian
Dan kembali lagi, semua hal itu relatif

Tuesday, March 8, 2016

Laba - Laba Yang Terpuruk

Terisak dan merana,
Kehidupan yang sebenarnya sebuah fana
Yang membedakan antara lembut dan nyaman
Bukankah hal itu sebuah keberhasilan?

Hidup adalah sebuah pilihan tantangan
Ya, pilih dan tantang
Bukan hanya memilih, atau bahkan hanya dengan bodohnya menantang
Berjalan di jalan kehidupan
Bukanlah seperti daun yang terombang-ambing di tengah danau

Berjalan di jalan kehidupan seperti laba-laba yang setiap melangkah harus menentukan 1 dari 8 kakinya untuk melangkah
Bahkan, seringkali kita terjerembab dalam sarang yang kita buat sendiri
Sarang yang sarat makna tentang kearifan Tuhan

Akal pikiran, logika dan analisa
Seakan membuat kita menjadi pongah
Sombong dalam merencanakan hal
"Bukankah itu suatu kearifan-Nya?"
Tuhan menciptakan manusia bukan hanya dengan kepongahanNya
Tuhan menciptakan manusia bukan dengan hasratNya

Jarak yang terlalu jauh, mengembangkan sarang selebarnya
Tanpa tahu angin yang berhembus darimana
Pola yang terlalu rumit, menyusun sarang serumitnya
Tanpa sadar kita terjebak didalamnya

Thursday, July 17, 2014

KEKECEWAAN

Sungguh, betapa lama aku baru bisa menyadari bahwa sosok seorang ibuku adalah sesosok yang paling luar biasa. Sebuah perjuangan hidup yang kumaknai dan ku terapkan dalam dedikasi mengurus keluarga. Tak pernah dapat ku mengerti, mengapa hatiku sungguh tertutup kala itu. Kisah dimana ujian berat dalam hidupku mulai teranyam, dimana masalah hidup mulai terdorong ke titik yang paling curam. Hal yang sangat ku takuti ketika menikah, yaitu perceraian. Hal yang selalu ku bicarakan dengan ibuku, bahkan sempat tuk berpikir bahwa "melarikan diri" ke Seminari, atau sekolah biarawan adalah hal terbaik tuk menghindari perceraian. 4 tahun pernikahanku harus kandas ditengah jalan, dimana jalan tengahnya hanyalah sebuah perceraian, hal yang paling ku takuti. Hatiku seolah tersayat dan tercacah kala ku harus pulang kembali ke orang tuaku. Sebuah aib yang selalu membayangiku dan keluargaku. Namun, disinilah sosok ibuku mulai terkuak. Dia dengan tangan terbuka tetap menerimaku, tetap menganggapku sebagai anak laki-lakinya yang kecil. Dengan rasa malu ku berjalan mendekati rumah, ku lihat wajah ibuku. Dimana kebahagiaan karena aku pulang, dan kesedihan dimana dia terpikirkan dalam karena masalahku. Ku lihat ke dalam matanya, dimana rasa sayang dan sedih mengekangnya. 2 tahun berlalu, bersama anakku, aku melalui hal yang memalukan. Dimana perceraian ada didepan mata. Kala ku terbaring di rumah sakit, dia tetap setia menemaniku, merawatku, dengan kesabaran dan kelemah lembutan. Bahkan, segala permintaan dan rengekanku segera dia penuhi. Namun, kala dia mengeluh sakit tak pernah hirauan muncul di kepalaku tuk berbakti padanya, bahkan dia tak permasalahkan itu. Ketika masalahku mulai tak terkendali, aku mulai menyerah. Namun, tidak dengan ibuku. Dia tetap tegar berdiri. Sungguh, wanita yang terhebat. Dalam kekuatannya, dia memendam semua beban dan tak ada yang pernah aku pedulikan. Hingga tiba waktu, dimana ibuku merasakan sakit kepala yang sangat hebat. Berulang kali ibuku rawat inap di rumah sakit, segala macam obat alternative, paranormal, dan segala jenisnya kami usahakan. Peduliku tetap belum termunculkan. Hingga koma merayap ke seluruh tubuh ibuku, hingga 2 minggu ibuku dirawat di ICU. Disitu, mulai ku berdoa. Mulai merengek demi kesembuhan ibuku, bahkan tiap ku didekatnya, air mataku selalu menetes. Minta agar ibuku bisa membuka mata kembali. Saat itu, 1 hari sebelum ulang tahunku. Ku merengek dekat telinganya, ku tanya dia "Masak apa buat ultahku buk?" Biasanya ibu yang memasak, dan dengan lembut memberikanku selamat. Ku terus menangis, ku minta kado agar ibuku kembali tersenyum. Rengekan demi rengekan ku alunkan. Dan hasilnya, pada hari upang tahunku, ibuku mulai membuka mata. Berbicara sedikit demi sedikit, dan hal yang pertama adalah memberikanku ucapan selamat ulang tahun, walau kata yang diucapkan terbata-bata. Hatiku sangat gembira saat itu, hal yang terindah dan hal yang sangat ku inginkan. Seiring ibu pindah kamar, disinilah seharusnya bakti padanya ku tunjukkan. Namun, semua seakan tertutup rasa benciku padanya atas segala yang ibuku lakukan di masa lalu. Kehangatan, kesabaran, dan kelemah lembutan yang ibuku tunjukkan kala merawatku tak dapat ku balas. Bahkan sesekali ku bentak, dan seakan ku acuh padanya. Berkali-kali ibuku minta maaf, entah tentang apa, tapi tak pernah aku hiraukan. Waktunya ibuku boleh rawat jalan. Ibu boleh pulang, walau tidak dengan semangat yang seperti dulu. Ibuku sudah mulai berbeda, mulai terbata-bata dan hilang segala ingatannya, bahkan sesekali mengigau. 2 minggu ibuku terlihat segera pulih, namun tidak lama ibuku mulai tumbang. Mulutnya terkatup, seakan ada yang membungkamnya, tangan dan kakinya terbelenggu. Sungguh, mata hatiku masih tertutup. Tak pernah ku minta maaf, ku ucapkan kata sayang, dan memaafkannya. Hingga akhirnya, disaat terakhirnya, ku berada disisinya. Berdoa dengannya, ku bantu ibuku tuk berdoa, dan mulai melepasnya. Disituoah ibuku melihatku dalam, seakan minta maaf dan meneteskan air mata. Ku usap air matanya, dan ku elus rambutnya, ku pegang tangannya sambil berdoa, "Tuhan, bebaskan ibuku dari segala beban berat ini. Sediakan tempat terindah di sisiMu". Selepas itu ibuku pergi tuk selamanya. Leherku seakan tercekik, namun air mataku tetap tertahan di kelopakku. Ku tutupi rqsa kehilanganku dengan canda tuk yang terakhir kalinalya dengan ibuku yang paling ku sayang. Mungkin tak kan ada waktu lagi tuk bercanda dengannya lagi. Air mataku, penyesalanku, dan kesedihanku tertumpah kala ku dapat melihat ibuku tuk yang terakhir kala masuk pada liang lahat. Rasa sayangnya tak pernah hilang dariku, bahkan ketika aku merantau, dan terjatuh sakit. Ibuku datang dalam mimpi dan membwakanku makanan, seolah-olah ibu masih disisiku. Ibu, aku selalu sayang padamu. Aku berterima kasih atas segala kasih sayang, perhatian, dan kesabaranmu menjaga dan memeliharaku. Tak kan ada seorangpun dapat menggantikanmu didunia ini. I LOVE U MOM, PAST, PRESENT, AND EVER...

Tuesday, July 15, 2014

catatan kecil zhe

aku adalah seorang anak perempuan berumur 4 tahun yang biasa, terlahir dari keluarga yang biasa. sebenarnya kehidupanku bisa menjadi terang, berwarna, dan penuh dengan kasih sayang.

cerita ini berawal dari aku lahir, 4 tahun yang lalu. saat itu, pukul 3 dini hari mama mulai meronta, merasakan kontraksi dariku. papa yang masih bekerja langsung ditelfon untuk pulang, tapi ternyata diperkirakan aku belum siap lahir karena sore harinya mama periksa dan baru kontraksi awal. namun, pukul 4.30 aku tak tahan untuk melihat dunia. dunia yang indah yang lama aku tunggu. sesuai dengan bisikan Tuhanku bahwa di dunia aku akan merasakan kebahagiaanku yang sesungguhnya. maka, aku pun mulai mendorong dengan keras. mama pun meronta kesakitan, papa langsung membawa mama didampingi oma untuk pergi ke bidan. sesampai di bidan, ternyata mama telah mengalami kontrakai akhir. papa pun pulang tuk mengambil baju dan semua perlengkapan demi persiapan diriku lahir. saat papa pergi, keluarlah semua yang menemaniku selama di perut mama. dan 15 menit kemudian akupun keluar, menyambut dunia dengan tangisanku yang pertama. bersamaan dengan tangis bahagia mama dan oma yang saat itu melihatku. seiring berjalannya sang waktu, kehidupanku mulai terlihat. bahagiaku bersama papa dan mama yang selalu memperhatikanku. menimangku sayang, memanjakanku selalu. masa yang memang seperti apa kata Tuhanku.

2 tahun kehidupanku berjalan, hingga tiba dimana adikku menyusulku tuk melihat dunia. kan ku bagi dengannya saat indah bersama papa, mama, adik, oma, kung, ayah, uti, dan semuanya. betapa hangat dan ramahnya dunia. kala ku menangis, mereka segera menimangku, menenangkanku.

namun, tak ku sangka, bahagiaku tak seindah bayangku dulu. kebersamaanku bersama mama dan adikku harus terenggut paksa, karena keegoisan papa dan mama. yang harus memaksaku berpisah dan meninggalkan mimpi-mimpi kebahagiaanku dulu. inikah apa yang Tuhanku bisikkan bahwa dunia memang berwarna, tak hanya cerah, namun ada mendung dan badai? hariku tanpa mama dan adikku membelengguku, mengharuskanku berusaha mendapatkan kasih sayang yang baru, di tempat papa. sesaat memang tak terlalu terasa untukku dan membuat diriku mengerti akan keadaan ini. ku tutupi rasa kecewaku, ku pendam rasa jengkelku, ku kaburkan perasaanku dengan keceriaan masa kecilku. terkadang, rasa itu muncul ketika ku bermain bersama teman-temanku, mereka dimanja dan ditimang, diperhatikan dan disayang oleh kedua orang tua mereka. ku bendung rasa kebencianku pada mereka, namun bukanlah hakku tuk melakukan itu. bukankah ini semua salah.kedua orang tuaku? yang tega dan tak berpikir bagaimana masa depanku dan adikku nanti? dengan status kedua orang tua kami berpisah dikarenakan keegoisan mereka? hal yang sebenarnya membuat kami malu tuk menjawab, kala semua orang mulai mempertanyakan dimana mamaku, atau papamu, bla bla bla. besar harapanku, tuk melihat mereka kembali bersama, menimangku dan adikku bersama, memanjakan kami, dan hidup sesuai dengan apa yang ku lihat pada diri teman-temanku. yang bisa tertawa renyah tanpa harus menutupi rasa kesal dalam hati, atau bisa merajuk manja.

Tuhan, aku dan adikku minta, berikanlah kami kebahagiaan seperti apa yang telah Engkau janjikan kepada kami. kebahagiaan sebagai sebuah keluarga yang utuh, papa, mama, dan adikku yang bisa tertawa bersama. karena hanya itulah aku minta padaMu tuk datang ke dunia ini. hapuskanlah keegoisan pada hati mereka dan penuhi hati mereka dengan kasih dan sayang selayaknya mereka menyayangi kami.

Thursday, November 7, 2013

BAYANGAN DAN DUSTA

Sang Mentari kembali tersenyum
Membawa secerca harapan dalam kehangatannya
Menghidupkan kembali asa yang membeku sepanjang malam
Membuka tabir kehidupan yang terselubung malam

Dalam kehangatannya tersamarkan suatu hal yang lain
Sifat membakar dan menguasai tampak dalam arogansi sang Mentari
Sebuah ironi yang selalu tertutupi
Konspirasi alam tentang kejamnya kenyataan

Di balik bayang-bayang sang Mentari
Tergeletak tak berdaya sang Bulan
Yang selalu meredup kala pagi mulai menyingsing
Raut wajah lesu dan letih, ekspresi tentang keputus asaan

Ku maknai semua yang ku lihat
Dengan kepicikan hati serta obsesi yang membara
Ku telaah dan berusaha ku mengerti
Tentang cahaya dan bayangan

Tawamu yang hangat, sesungguhnya adalah arogansimu yang selalu kau tutupi
Raut wajahmu yang merona, seakan menutupi sisi gelap yang kau punya
Matamu yang sejuk, membuktikan bahwa pilu yang ada
Kebohongan adalah hidupmu

Saturday, November 2, 2013

PENGUNGKAPAN SEBUAH TANYA

Cerita ini ditujukan untuk mengerti arti sebuah hidup, dan bagaimana nenjalani sebuah duka menjadi suka. Kisah yang selalu terbayang dalam pikiranku ketika bersiap menjadi ayah.

Desember 2011, saat itu saat dimana aku dan istriku menunggu dengan cemas. Karena pada hari itu, perkiraan buah hati kami yang kedua telah dekat. Harap harap cemas terbuai dalam pikiranku, dimana aku hanya seorang buruh pabrik kecil yang berupah minim. Kebutuhan kami sehari hari terbantu dengan kami tinggal bersama orang tua istriku, aku selalu tutupi rasa maluku karena belum dapat menjadi suami dan ayah yang baik dengan menyediakan hunian kami sendiri. Lepas dari itu, kami juga masih punya seorang bidadari kecil yang saat itu masih berusia 1,5 tahun. Usiaku yang baru menginjak 21 tahun dan istriku 19 tahun membuat kami tertekan saat itu, maklum kami menikah pada tahun 2008 usia kami masih 18 dan 17 tahun.

Subuh, akhir Desember 2011. Istriku mengalami kontraksi, dan dengan terburu-buru aku langsung menyiapkan motor untuk bersiap membawanya ke puskesmas. Tidak lupa doaku ketika menenangkan istriku yang merintih kesakitan, sebenarnya waktu itu lebih cepat 2 mingu dari perkiraan bidan. Tapi, who knows?

Jarak antara rumah dngan puskesmas cukup jauh, sekitar 7km melewati gang sempit di kampung-kampung. Sebenarnya ada bidan yang jaraknya tergolong dekat, tapi apa daya. Dengan penghasilanku yang pas-pasan aku tak mampu untuk membiayainya, jangankan untuk bersalin, untuk biaya periksa tiap bulan pun aku tak mampu. Maka dari itu kami pilih puskesmas dengan program persalinan gratis.

Aku jalankan motorku dengan perlahan, berhati-hati agar istriku tak mengalami guncangan yang keras. Ku usahakan istriku nyaman dalam boncenganku.

Sekitar 20 menit berlalu, dan akhirnya sampailah kami di puskesmas. Langsung ku turunkan istriku dan ku gandeng dia masuk ke ruang bersalin. Dengan kegugupanku, aku bicara pada suster yang berjaga. Dan dengan sigap mereka menempatkan istriku dalam ruangan. Istriku merintih kesakitan, ku coba tenangkan dia dengan bacakan istighfar dan selalu ku bilang "I LOVE YOU" sepanjang waktu. Ku kuatkan dia dan ku tenangkan dia, setelah tenang aku di panggil sang bidan dan berkata, "Tekanan darah istri bapak terlalu tinggi, 160/120. Dan jika dalam satu jam darahnya belum normal maka dia harus di rujuk ke RSUD untuk menjalani cesar." Degg, hatiku langsung kacau tak beraturan. Dari mana biaya yang aku dapatkan untuk operasi? Namun, dengan tegar ku anggukkan kepalaku tanda setuju. Kemudian ku belikan istriku roti dan teh hangat untuk menguatkan tenaganya kelak. Setelah dia makan, ku tinggalkan dia untukku keluar. Di luar aku menangis, sebuah tindakan yang benar untuk seorang ayah. Aku berdoa, memohon jalan keluar agar anak dan istriku akan baik baik saja. Entah bagaimana caranya, mereka harus sehat dan dapat aku peluk. Ku raba kantongku, dimana uang 300 ribu terakhir ada. Saat itu, pabrikku tengah libur panjang dalam menghadapi natal dan tahun baru. Sehingga aku tak dapat mengandalkan cash bon dari pabrik. Namun ku coba tuk tabah. Setelah selesai merengek aku kembali ke dalam.

Setengah jam berlalu, ku iringi detak jam dengan rengekanku pada Tuhanku. Ku cium kening istriku, memegang erat tangannya dan ku bisikkan kata "Kamu wanita kuat, kamu harus kuat"  dan kata "I LOVE YOU"  sepanjang waktu. Dan kemudian, waktu itu datang. Istriku meronta, 5 suster langsung menanganinya. Aku hanya bisa membisikkan kata-kata tersebut demi menguatkannya. Inilah penepatan janjiku untuk selalu menemaninya ketika dia berjuang melahirkan, karena suatu alasan aku tak bisa disampingnya ketika anak pertama kami lahir.

Sebenarnya terlalu awal, karena tekanan darahnya belum kembali normal. Namun, Tuhan mengijinkan istriku melaluinya. Setelah ngeden sekitar 15 menit akhirnya kepala buah hatiku telah muncul. Dengan darah yang menyelimutinya, dia lahir di dunia. Kebahagiaanku makin lengkap ketika sang suster berkata," Selamat, anaknya cowok". Betapa lengkapnya hidupku, tapi aku kembali teringat sosok kuat dan tabah yang berjuang mati-matian, istriku. Ku lihat dia dengan wajah sayu bahagia, letih dan tampak sebuah pengorbanan yang besar. Ku cium dia, ku peluk dia. Dengan lirih dia bertanya, "Anak kita cowok apa cewek?".
"Cowok, terima kasih ya udah kasih kesempurnaan dalam hidupku", jawabku sembari tersenyum dan menangis.
Air matanya menetes, mengiringi tangisan pertama jagoanku yang dia dekap.

TUHAN selalu menjawab apa yang kita butuhkan demi kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Sebuah usaha untuk mendapatkannya, dan DIA akan selalu mencukupinya.